Part of — On the Becoming, of Us [Chapter 01]

Kotak kayu itu tiba dengan pita beludru gelap. Di atasnya tertera nama Marda, namun alamat pengirimannya masih tertuju ke rumah Josie—alamat default yang selama bertahun-tahun tersimpan di akun belanja daring milik Kama.
Josie menatap kotak itu cukup lama. Ia tahu apa isinya tanpa perlu membuka. Sebuah piringan hitam langka yang sudah lama dicari Marda, yang pernah Kama ceritakan dengan mata berbinar. Josie tidak ingin menyimpannya. Ia tidak ingin esok pagi saat ia terbangun, benda itu masih ada di sana, tepat saat Josie sedang menyortir seluruh hidupnya ke dalam koper meninggalkan Jakarta.
Malam itu, Josie hanya ingin semuanya cepat selesai.
Dengan tenang, ia menyambar kunci mobilnya dari atas meja konsol. Ia akan mengantarkan kotak itu, menyerahkannya, lalu pergi. Sesederhana itu.
+++
Apartemen Marda begitu riuh, hampir terlalu banyak orang di sana. Josie memberanikan diri untuk membawa dirinya masuk, dan berharap kehadirannya tidak menarik terlalu banyak perhatian. Namun, selekasnya ia menjejakan kaki ke dalam apartemen itu, ia bisa merasakan sepasang mata mengikutinya.
Di sudut ruangan, Kama berdiri menatapnya dengan gelas plastik merah di tangan, dan ekspresi yang sulit dibaca.
Mata mereka bertaut dari kejauhan. Tatapan yang penuh tensi tapi juga hambar secara bersamaan. Josie tidak punya pilihan selain menghampiri Kama dengan ketenangan yang ia bangun susah payah selama perjalanan. Tanpa basa-basi, ia meletakkan kotak itu di sebuah meja di antara mereka.
"Paket lo nyasar ke rumah gue," ujarnya datar. Suaranya terkontrol.
Kama melirik ke arah kotak itu sekilas, lalu kembali menatap Josie dengan senyum miring yang tidak sampai ke mata. "Oh. Kirain udah lo buang.”
"Hampir," jawab Josie pendek, tidak ingin memberi celah. "Tapi gue nggak mau punya utang rasa sama Marda. Happy birthday to him. Gue cabut." ujar Josie seraya berbalik, namun suara Kama yang rendah dan tajam menahan langkahnya.
"Gitu aja, Jos? Dateng, anter barang, pergi," Kama menyesap minumannya, matanya tidak lepas dari punggung Josie. "Segitu takutnya lo ngeliat gue sampai harus kabur lagi?”
Josie menghentikan langkahnya, tetap membelakangi Kama. "Gue nggak kabur Kam. Gue cuma nggak mau bikin drama di sini.”
"Drama?" Kama melangkah mendekatinya, jarak mereka kini hanya sejengkal. Aroma parfum Kama yang familiar mulai mengusik kewarasan Josie. "Atau lo cuma nggak tahan ngerasa bersalah kalau lama-lama di sini? Lo dateng cuma buat anterin barang tanpa nanya kabar gue. It’s convenient for you, kan? Not a single fucking word, Jos? None?”
Josie akhirnya menoleh, matanya berkilat tajam. "Gue butuh napas, Kam. Makanya gue nggak jawab chat lo seminggu ini. Jangan egois.”
"Gue yang egois?" Kama tertawa kecil, suara yang lebih menyakitkan daripada bentakan. "Lo hilang pas gue butuh, dan sekarang lo bilang gue egois cuma karena gue pengen tahu apa gue masih penting buat lo?”
"Lo tahu lo penting buat gue," desis Josie, suaranya mulai menunjukkan emosi.