Part of — On the Becoming, of Us [Chapter 01]

Kama tersungkur di lantai dapur. Bahunya bergetar, wajahnya terbenam di kedua telapak tangan. Dari ruang tengah, musik masih berdentum, mengaburkan isak yang lepas dari celah bibirnya.
"Gue emang pathetic ya, Mar?" bisik Kama. Marda tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meletakkan gelas air di meja dengan perlahan. Pemuda itu hanya berdiri di sana, membiarkan kehadirannya menjadi penenang.
"Kenapa dia bisa keliatan baik-baik aja, Mar?" suara Kama parau, hampir tidak terdengar. "I put my whole heart out in the open for him.... tapi buat Josie, gue cuma pengisi waktu luang.”
Marda menghela napas, ia akhirnya mendekat dan duduk bersandar di samping Kama. Tangannya ragu sejenak sebelum mendarat di bahu sahabatnya itu. "Mungkin karena lo terlalu terang, Kam," ujar Marda. Jarinya mengusap halus, perlahan naik menyentuh lembut kepala Kama.
"Nggak semua orang kuat liatnya. Dan nggak semua orang ngerti cara ngehargain itu.”
Kama menoleh, matanya merah dan basah. Ia menatap Marda—satu-satunya orang yang tidak pernah meninggalkannya.
"Maaf," suaranya tercekat.
"Maaf, gue bikin drama begini di ulang tahun lo. We’re supposed to have fun. Dan maaf juga gue udah undang Salv, gue pikir—”
"Don’t worry about it. What’s a memorable night without a little bit of drama?” potong Marda, mencoba tersenyum dan meredakan sedikit bising di kepala Kama.
“And thank you for trying so hard to pull me out of my misery too. I know what you’ve been doing, Kam. I really, really appreciate it." ujarnya, meyakinkan Kama bahwa tidak ada yang perlu disesali dari malam itu.
Keheningan dapur menyelimuti mereka, hanya interupsi suara kulkas yang menderu rendah, bercampur dengan dentum musik yang samar.
Kama menyandarkan kepalanya pada bahu Marda, mencari sisa-sisa kewarasan di sana. Dalam kerapuhan itu, mereka berdua saling menggenggam, seolah takut kehilangan tumpuan.
"Can we stay like this for a while?" bisik Kama.
"As long as you want," jawab Marda pelan.
Ruangan tiga kali empat itu terasa luas dan sempit sekaligus. Mata Marda menelusuri sudut-sudut yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya dari apartemennya itu. Saat ia menatap lurus ke depan, Marda bisa melihat bayangan mereka berdua dari pantulan pintu stainless mesin pencuci piring. Bayangan pemuda di depannya menatapnya lelah, seolah sedang berdiri di tepi tebing, ragu untuk melompat atau menarik diri.
"Hei…inget nggak pertanyaan lo kemarin malam?" Marda bersuara lagi, lebih berat kini. "Waktu lo tanya, what if you wanna cross the line with me?”
Kama terdiam. Ingatannya kembali pada malam di mana logika masih memegang kendali, dan pertanyaan itu dilontarkannya di tengah candaan. "You said it’s not the wisest idea. If we break up, we won’t recover. Ever. You said you cannot lose another friendship.”