Part of—On the Becoming, of Us [Chapter 01]

“...so things don’t get awkward, or so you don’t feel like you’re being left out.”
Salv mendengus getir. Kata-kata Kama terdengar santai dan kasual, namun penuh provokasi.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar. "Bangsat," makinya pelan.
Ego dan rasionalitasnya sedang berperang hebat. Di satu sisi, kepalanya yang mencoba rasional mengatakan: Lo profesional, Salv. Lo punya komitmen di sini. Tapi ego, dan perasaannya yang tersisa untuk Marda, berteriak lain.
Salv mengambil kembali ponselnya. Ia membuka aplikasi pemesanan tiket pesawat. Jari jemarinya bergerak cepat, mencari opsi gila.
Jakarta-Bali, satu malam saja.
Opsi itu ada.
Sangat mahal, sangat melelahkan, tapi ada.
Ia menatap tiket itu selama beberapa detik. Jika dia pergi esok sore setelah photoshoot-nya dengan Vans, dia bisa sampai di Jakarta saat malam, datang ke pesta Marda saat midnight, lalu mengambil penerbangan paling subuh kembali ke Bali untuk shoot konten festival bersama sponsor jam 9 pagi, sebelum latihan dengan Cellophane di siang harinya.
Itu gila. Itu bunuh diri secara profesional jika dia sampai terlambat atau kelelahan. Tapi itu satu-satunya cara.
Ia tidak datang untuk Kama. Ia tidak akan datang untuk membuktikan apa pun. Ia datang untuk Marda.
Salv menekan tombol 'Pesan’.Sambil menunggu konfirmasi, ia membuka ruang chat dengan Raka, manajernya. Ia perlu menyusun rencana cadangan, memastikan tidak ada yang tahu dia pergi, dan bahwa Raka siap mengaturnya jika sesuatu yang buruk terjadi.
Setelah tiket terkonfirmasi, Salv menarik napas panjang. Udara Nusa Dua malam itu tiba-tiba terasa lebih berat. Ia tahu apa yang menunggunya di Jakarta bukan sekadar pesta, tapi mungkin juga konfrontasi. Mungkin juga closure yang telah lama ia cari. Yang pasti, sebuah pertemuan dengan masa lalu yang belum sempat ia tuntaskan.
Ini memang terdengar seperti ide yang buruk.
Salv meremat ponselnya, menatap tanggal dan detik yang berganti di layar, layaknya menghitung mundur sebuah bom waktu.