Part of — On the Becoming, of Us [Chapter 01]

1000139488.png

Sudah pukul dua siang. Cahaya matahari Jakarta merangsek masuk melalui jendela, menyinari partikel debu yang melayang lambat di udara — mengambang diam, seolah waktu sedang menahan napas di antara tumpukan kardus yang sudah ditutup rekat.

Salv berlutut di lantai kamar yang mulai kosong itu. Di depannya, sebuah kardus terbuka, menunggu untuk diisi sisa-sisa terakhir dari tahun-tahun yang panjang.Tangannya menjangkau tumpukan kertas di pojok ruangan. Map plastik kusam itu berisi coretan lirik yang ditulis dengan spidol permanen yang mulai memudar.

Glassknifer – Demo Track 01

Salv terdiam sebentar, jemarinya mengusap permukaan plastik itu. Ia ingat bau kopi instan dan sisa rokok di studio sewaan saat mereka merekamnya. Marda yang duduk bersila di atas karpet berdebu, memejamkan mata sambil mencari harmoni vokal yang pas. Dulu, Glassknifer adalah segalanya. Ambisi dua anak SMA yang merasa bisa membelah dunia dengan distorsi gitar dan kemarahan yang mereka ubah menjadi nada.

Ia menarik selembar kertas dari balik map. Bukan lirik, melainkan sketsa wajahnya yang sedang tertidur, digambar oleh Marda dengan pensil 2B di atas kertas bekas pembungkus roti. Garis-garisnya tegas namun penuh perhatian. Di sudut bawah, ada catatan kecil:

Bangun, Salv. Katanya mau menghantam dunia.

Salv melipat kertas itu perlahan, merasakannya di antara jemari sebelum meletakkannya di dasar kardus. Ada rasa nyeri yang tumpul, bukan lagi ledakan amarah seperti saat mereka dulu berdebat tentang jadwal Salv yang mulai padat tanpa Marda. Kini hanya tersisa keheningan yang bersih.

Ia beralih ke deretan pot tanaman di pinggir jendela. Sukulen dan kaktus kecil milik Marda yang tampak sedikit layu. Marda dulu yang membawanya, agar kamar Salv yang minimalis tidak terasa seperti "ruang operasi", katanya. Salv mengusap lembut salah satu pot tanah liat yang permukaannya terasa kasar, penuh retakan halus dan debu yang mengumpul. Ia teringat hari di mana mereka akhirnya sepakat untuk berhenti. Tidak ada teriakan yang pecah. Tidak ada nada tinggi. Hanya dua orang yang saling menatap di bawah lampu redup kamar yang kuningnya seperti membakar, menyadari bahwa mereka tidak lagi tumbuh ke arah yang sama.

Kita butuh ruang buat bernapas tanpa harus ngerasa bersalah satu sama lain, Salv.

Bisik Marda saat itu, suaranya tetap tenang meski matanya merah.

Salv mulai memasukkan foto-foto polaroid ke dalam amplop cokelat. Foto hari-hari mereka sebagai mahasiswa baru — saat rambut Salv masih dicat asal-asalan, Marda yang mengenakan jaket denim yang terlalu besar, dan Kama dengan rambut ikalnya yang kelewat panjang. Lalu foto gigs besar pertama mereka yang Kama ambil dari sisi panggung, saat ia dan Marda berdiri di bawah lampu panggung yang menyilaukan, saling melempar senyum sebelum masuk ke chorus terakhir. Di foto itu, mereka terlihat abadi.

Salv menutup kardus terakhir, menyegelnya dengan lakban yang suaranya terdengar hampir terlalu nyaring di dalam ruangan sunyi. Ia berdiri, menyapu pandangan ke seluruh sudut untuk terakhir kalinya. Kamar ini pernah menjadi saksi bagaimana ia dan Marda bertumbuh, sebagai sahabat dan juga sebagai kekasih. Dinding-dindingnya menyaksikan Glassknifer lahir, berdansa, dan akhirnya mati secara perlahan dalam diam. Kini, yang tersisa hanyalah kekosongan yang jujur.

Salv menjinjing kardus terakhir ke mobil. Ia meletakkan kunci kamar itu di bawah pot tanaman paling besar di teras, lalu masuk ke balik kemudi.

Di dalam mobil yang masih panas karena terjemur matahari, Salv merogoh ponselnya. Menatap lock screen yang sepi dari notifikasi Marda. Pesannya tadi malam tidak kunjung dijawab. Ia sempat mengetik satu baris kalimat, namun jarinya meragu di atas tombol kirim, sebelum akhirnya ia menghapus semuanya. Mungkin memang tidak ada lagi yang perlu dikatakan.

Saat ia menyalakan mesin, pemutar musik otomatis menyambungkan ponselnya ke audio mobil, dan lagu lama milik The Cure mulai mengalun—lagu kesukaan mereka berdua saat menghabiskan malam di jalanan Jakarta. Salv mendengarkannya selama beberapa detik, membiarkan melodi itu membawanya kembali ke memori-memori lama untuk sekejap saja.Lalu, dengan gerakan yang tenang dan pasti, ia menekan tombol skip.

Lagu baru yang lebih modern, dengan beat yang asing, mengisi ruang mobil. Salv memindahkan persneling, menginjak gas perlahan, dan membiarkan spionnya menangkap bayangan rumah putih yang semakin menjauh itu. Ia tidak lagi mencari harmoni yang sama dengan Marda. Ia hanya ingin mendengar suaranya sendiri di tengah keriuhan Jakarta yang baru saja ia mulai kembali.