Part of — On the Becoming, of Us [Chapter 01]

Angin malam di lorong semi terbuka itu berembus kencang, menyapu wajah Josie yang masih terasa panas. Suara musik kini terdengar samar, terdistorsi oleh luasnya langit Jakarta, namun tetap terasa seperti detak yang mengganggu di telinga.
Salv berjalan di sampingnya, suara boots-nya menggema membelah lorong. Ia tidak bertanya, tidak juga menghakimi. Ia hanya menjadi pengamat bagaimana Josie bersusah payah mengendalikan diri. Pemuda itu menggenggam kunci mobilnya seakan seluruh gejolak emosi yang tak sempat ia tuntaskan kini mengecil dan memadat di sana.
Salv memperhatikan jari-jari Josie yang gemetar dan memutih di atas permukaan logam kunci itu. Ada sesuatu dalam cara Josie meredam amarahnya, yang membuat Salv ingin mengulurkan tangan. Bukan untuk menenangkan, tapi sekadar memastikan pemuda itu tidak hancur berkeping-keping tepat di depan matanya.
“Setelah semua yang gue usahain... setelah gue mencoba berpamitan dengan cara yang paling waras... dia selalu bikin gue ngerasa kayak penjahat," desis Josie, suaranya hampir hilang ditelan angin.
Salv berhenti sejenak, menyandarkan bahunya pada bingkai jendela yang dingin. Dari lantai empat gedung apartemen itu, ia menatap lampu-lampu kota yang berpijar jauh, memancarkan cantik yang semu.
"Nggak ada orang yang bisa jadi versi terbaik dirinya pas lagi ngerasa ditinggalin. Even lo, even Kama," sahutnya tenang. "Kama numpahin semua rasa nggak berdayanya ke lo, karena mungkin, dari semua orang, lo lah yang paling berhak buat tahu dan terima itu, Jos.”
Josie menghela napasnya. Kalimat Salv menghantam sisi dalam hatinya yang ia coba keraskan. Ada rasa bersalah yang menyesakkan di sana.
"Gue benci pergi dengan perasaan kayak gini," bisik Josie, suaranya kini melirih. "Gue cuma pengen dia juga ngerti, sekali aja, kalau gue juga berantakan. Gue menghindar karena tau, gue dan dia butuh ruang, karena proximity tanpa kepala dingin jadinya ya kayak gini.”
Cerita yang terasa familiar di telinga Salv. Saat kata-kata berubah menjadi senjata dan diam menjadi siksaan. Ia melihat bayangan dirinya dan Marda pada Josie dan Kama saat ini. Sebuah lingkaran setan yang hanya akan berakhir hancur jika tidak diputus paksa.
Josie menatap lift di ujung lorong. Ia hanya butuh beberapa langkah lagi untuk menyudahi malam ini. Namun, ada keraguan yang menggerogoti kepalanya, kenekatan yang menyelinap. Ada sesuatu yang tertinggal—sisa percakapan yang menggantung dan menyiksa. Keinginan egois untuk melihat wajah Kama sekali lagi, mencari konfirmasi apakah pemuda itu benar-benar sudah selesai dengannya, atau justru sedang hancur dengan cara yang sama.
"Barang gue ketinggalan di dalem," ujar Josie tiba-tiba. Suaranya bergetar. Sebuah kebohongan yang buruk, tapi ia butuh alasan untuk kembali.
Salv menatapnya tajam. Untuk sesaat, matanya tertuju pada binar tipis yang tertahan di sudut mata Josie. Ia membenci betapa pemuda itu mengingatkannya pada dirinya dulu, keras kepala mencari luka hanya demi sebuah jawaban.
"Jos, jangan," ucap Salv, memperingatkan.
"Let it go.”
“Cuma sebentar, Salv. Gue cuma butuh liat dia sekali lagi.”
Tanpa menunggu balasan, Josie pun berbalik. Ia berjalan kembali menyusuri lorong itu menuju apartemen Marda. Salv hanya berdiri diam, menatap punggung Josie yang menjauh. Ada dorongan aneh di dadanya untuk menarik pemuda itu kembali, menahannya dari apa pun yang menunggunya di balik pintu itu, namun ia tahu Josie adalah api yang harus memadamkan dirinya sendiri.
+++