Part of — On the Becoming, of Us [Chapter 01]

Di antara dentum bass dan tawa orang-orang yang tidak begitu ia kenal, Salv menemukan Marda berdiri di sudut balkon yang sedikit lebih tenang. Pemuda itu memegang gelasnya dengan kedua tangan, seolah-olah benda itu adalah pelindung terakhirnya dari kebisingan di dalam.
Salv melangkah mendekati mantan kekasihnya itu, membiarkan suara boots-nya teredam karpet tebal sebelum akhirnya bersandar di ambang pintu. Keheningan di antara mereka terasa berat, kontras dengan keriuhan di ruang tengah.
"Gue nggak nyangka lo bakal bikin pesta serame ini, Mar," ujar Salv datar, matanya lurus menatap lampu-lampu Jakarta. "Bukan gaya lo banget. Gue pikir lo bakal lebih milih ngumpet di studio daripada dikelilingin orang-orang yang bahkan nggak tahu apa jenis kopi favorit lo.”
Salv bermaksud basa-basi, sebuah cara untuk mencairkan suasana setelah berbulan-bulan saling menghindar. Namun, ia lupa bahwa Marda bukan lagi orang yang sama yang ia kenal enam bulan lalu. Pemuda itu tidak menoleh. Ia hanya menyesap minumannya sedikit, lalu memberikan senyum tipis yang terasa dingin dan tajam.
“iya gitu?”
Marda akhirnya menatap Salv, matanya memantulkan cahaya lampu balkon yang berpendar remang.
"Mungkin lo bener, ini bukan gaya gue. Tapi paling nggak, pesta ini bikin Kama punya kesibukan sendiri.”
Marda menjeda, dagunya menunjuk ke arah Kama yang sedang tertawa lebar sambil memamerkan skateboard barunya di tengah kerumunan.
"Seenggaknya dengan ngeributin dekorasi dan playlist buat gue, dia berhenti mikirin Josie terus-terusan. Dia butuh distraksi, dan gue... gue butuh dia nggak ngerasa sendirian juga," lanjut Marda. Suaranya tenang, namun ada nada konfrontatif yang jelas. "Jadi, kalau menurut lo ini bukan 'gaya' gue, ya mungkin karena sekarang gue lagi belajar lebih peduli sama apa yang dibutuhin orang di sekitar gue, daripada sekadar kenyamanan gue sendiri.”
Salv terdiam. Kalimat Marda adalah sebuah tamparan halus. Marda tidak hanya membalikkan asumsinya, tapi juga menegaskan bahwa dirinya kini adalah seseorang yang tidak lagi memiliki hak untuk mengakses isi pikiran pemuda itu.
Marda bukan lagi rumah dengan kunci yang Salv miliki. Pemuda di hadapannya itu adalah tempat berbeda yang telah membangun dinding-dinding barunya sendiri tanpa campur tangan Salv sedikit pun. Dia adalah pria yang sedang mencoba bertahan hidup dengan caranya sendiri—bahkan jika itu berarti harus berpura-pura menikmati pesta yang ia benci.
"Lo berubah, Mar," bisik Salv pelan. Kata-kata itu tidak terdengar seperti penghakiman, namun sesuatu yang lebih menyerupai harapan.
"Semua orang berubah, Salv. Lo cuma telat dateng buat ngeliat prosesnya," balas Marda sambil tersenyum hambar, sebelum akhirnya ia berbalik dan berjalan masuk kembali ke dalam kerumunan, meninggalkan Salv sendirian di balkon yang tiba-tiba terasa jauh lebih dingin daripada angin malam Jakarta.